Ellyas Pical Jadi Juara Dunia Tinju Pertama Asal Indonesia – Hari itu, almanak membuktikan 3 Mei 1985. Istora Senayan penuh ketat. Tidak kurang 17 ribu orang mengelu- elukan julukan petinju kebesarhatian Indonesia, Ellyas Pical. Jutaan mata yang lain di bermacam arah Indonesia memaku pemikiran ke tv. Jantung mereka berdegup penuh minta menanti suatu asal usul terkini untuk Indonesia. Ellyas Pical jadi bintang film kuncinya.

Ellyas Pical, yang dikala itu berumur 25 tahun, memiliki durasi 15 ronde buat berupaya jadi pemenang bumi pukulan yang awal asal Indonesia. Tetapi, halangan besar mengadang di depannya. Elly wajib meregang sabuk pemenang bumi kategori melambung luar biasa ataupun bantam baru tipe IBF dari pinggang petinju Korea Selatan, Ju Do- chun.

Chun memiliki modal yang dapat membuat rival jeri. 5 petinju yang tadinya berupaya meregang gelarnya dibuat terkapar nama lain takluk KO. Chun pula tidak gentar berkompetisi di Jakarta, di dasar titik berat belasan ribu pemirsa, yang mengelu- elukan Ellyas Pical.

Tetapi, Ellyas Pical pula tidak gentar. Ia telah menyiapkan perlombaan akbar itu dengan teliti. Ia menempa diri dengan cara intensif di dasar bimbingan si instruktur, Simson Tambunan.

” Saat sebelum melawan Chun aku belajar keras sepanjang 6 bulan,” melamun Elly, dalam obrolan dengan Bola. com, sebagian durasi kemudian.

Hasil tidak sempat mencederai upaya. Ellyas Pical betul- betul memborbardir Chun. Pada ronde keempat Chun terjungkal, tidak daya menahan hook kiri legendaris Elly.

Tidak salah Elly berjuluk The Exocet. Pers membagikan julukan itu merujuk peluru kendali ciptaan Prancis yang dipakai Inggris melanda Argentina pada Perang Malvinas 1982. Hook kirinya meluncur kencang kolam peluru kendali.

Chun sanggup bangun. Tetapi, sejatinya ia cuma mengulur- ulur momen kemenangan Elly. Chun kesimpulannya betul- betul berserah pada medio ronde kedelapan. Chun dengan sisa- sisa daya berupaya membebaskan hook kanan ke wajah Elly. Petinju asal Saparua, Maluku, itu cekatan menjauh.

Ellyas Picalkemudian balik membebaskan hook kanan, tetapi belum kena target. Sekonyong- konyong Elly menyarangkan hook kiri ke rahang Chun. Petinju Korsel itu terjungkal. Istora Senayan langsung bergemuruh. Pemenang bumi terkini sudah lahir. Ellyas Pical sukses menggoreskan namanya di novel asal usul.

Formula Kesuksesan

Lebih dari 3 puluh 3 tahun berjarak, Elly mengenang momen itu dengan penuh senyum. Ia memberi formula kesuksesannya. Pasti saja kesuksesan itu tiba berkah bimbingan keras.

Mantan petinju yang saat ini bermukim di Perumahan Delegasi Bintaro, Kunciran, Tangerang itu tidak sempat tanggung- tanggung dikala belajar. Terdapat satu perihal yang dipegangnya dengan konsisten dikala memeriksa jalur mengarah pemenang bumi.

” Sejauh ekspedisi aku mengarah sabuk pemenang bumi, satu kunci yang wajib dimiliki merupakan patuh. Mulai patuh durasi belajar hingga patuh melindungi kesegaran raga,” ucap Elly.

Petinju kelahiran 24 Maret 1960 itu patuh belajar 5 hari dalam seminggu, Senin sampai Jumat. Sabtu serta Minggu dihabiskannya buat istirahat, dan ke gereja. Elly mengekang nafsunya buat berhura- hura semacam pemuda- pemuda seusianya. Hidupnya cuma berkutat dengan bimbingan, bimbingan, serta bimbingan.

Elly terus menjadi keras pada dirinya sendiri dikala mengalami perlombaan. Ia ketahui, titel pemenang tak mungkin tiba dengan sendirinya.” Dahulu aku umumnya belajar dari jam 08. 00 hingga jam satu siang. Jika berakhir belajar, balik ke mess. Tidak sempat main- main. Wajib patuh, pula mencermati tutur instruktur,” menggerai Elly.

Elly pula mempraktikkan tata cara bimbingan berlebihan.” Aku dahulu kerap belajar dengan berlari menggendong ransel bermuatan pasir seberat 20 kg. Larinya di area Pucuk, jadi memanjat. Tidak hanya itu pula bimbingan di Tepi laut Ancol. Latihannya dengan berlari di air. Jika tidak bimbingan semacam itu, mana bisa jadi dapat jadi pemenang bumi.”

Karir Pendek, tetapi Bergelimang Prestasi

Bukan cuma patuh serta keras dikala belajar, Elly pula kencang melindungi pola makan. Ia berupaya melindungi fisiknya senantiasa fit.

” Aku senantiasa pas durasi mengawali durasi belajar, paling utama menempa raga supaya tidak berubah- ubah serta lalu bertumbuh. Tidak hanya itu, aku melindungi pola makan. Menu wajib balance, aku makan berbagai macam sayur- mayur serta menghalangi nasi,” tutur Elly.

Elly senantiasa keras pada dirinya sendiri, apalagi semenjak sedang anak. Pada era kecilnya, Elly kerap menyelam mencari mutiara sampai ke dasar laut. Kegiatan itu amat beresiko, tetapi kelihatannya sukses mempertajam keberanian serta energi Elly.

Bumi Elly dikala itu berfokus di Saparua. Tetapi, kotak tv mengganti hidup Elly. Lebih persisnya siaran pertarungan pemenang pukulan bumi kategori berat, Muhammad Ali.

Wujud Ali membuat Elly kagum. Ia tidak sempat melupakan pertarungan Ali. Tidak lumayan memuja- muja, ia mau manapaki jejak Ali. Bisik- bisik ia belajar pukulan. Kekangan orang berumur tidak sukses memaksanya menyudahi. Lama- lama tetapi tentu ia membuat kariernya, dimulai di tingkat pemula.

Pada 1980, Elly Pical mulai memanen hasil bimbingan kerasnya, dengan memenangkan Piala Kepala negara. Satu tahun berjarak, lagi- lagi ia kembali pemenang pada event yang serupa. Elly pula berjuang buat Indonesia. Hasil terbaiknya merupakan medali perunggu pada SEA Permainan 1981 di Manila, Filipina.

Pas 2 tahun berjarak, Ellyas Pical mulai turun ke membela. Hasil untuk hasil ditorehkan Elly di tingkat membela, persisnya di kategori bantam baru.

Elly ialah petinju awal asal Indonesia yang mencapai titel awal di luar negara. Pada 19 Mei 1984, suami Rina Siahaya Pical, itu menaklukkan petinju Korea Selatan, Jung Hee- yung, dengan nilai telak di Seoul. Ia berkuasa meregang sabuk titel OPBF. Nyaris satu tahun berjarak, Elly apalagi telah sukses jadi pemenang bumi sehabis menaklukkan pertarungan anti Ju Do Chun.

Titel pemenang bumi itu luang direbut petinju Republik Dominica, Cesar Polanco, pada 15 Februari 1986. Tetapi, lima

bulan berjarak Elly sukses mengembalikan sabuk pemenang itu ke pinggangnya.

Sabuk pemenang kembali bebas dari Elly pada 28 Februari 1987, sehabis takluk dari petinju Thailand, Khaosai Galaxy, di Stadion Penting Senayan. Ia KO pada ronde ke- 14.

Peluang kembali jadi pemenang bumi tiba kala ia menantang Tae- Il Chang. Chang ialah pemenang bumi kategori melambung luar biasa IBF yang ditanggalkan Galaxy. Pertarungan itu sukses dimenangi Elly. Ia setelah itu 3 kali menjaga titel melawan Raul Ernesto Diaz, Kim Ki- chang, serta Mike Phelps.

Sabuk pemenang betul- betul bebas dari Elly sehabis takluk dari Juan Polo Perez di Valley Sports Arena, Virginia AS, pada 14 Oktober 1989. Ia takluk dari Juan Polo Perez. Sehabis kegagalan itu, Ellyas Pical menyudahi gantung sarung pukulan. Sejauh kariernya, Elly naik ring 26 kali, dengan 20 kali berhasil( 11 KO), 5 kali takluk, serta sekali seri.

Elly cuma 6 tahun berkecimpung di kancah pukulan handal. Tetapi, dalam bentang durasi yang relatif pendek itu Elly berhasil menggoreskan tinta kencana dalam asal usul pukulan Indonesia serta bumi. Apalagi, web Asian Boxing melabelinya bagaikan petinju dengan bogem mentah sangat luar biasa dalam asal usul kategori melambung luar biasa.